Sabtu, 13 Agustus 2016
Bye : Agustia ningsy (17th)
Cerita Pemeran Utama
Sebelum ini ku
alami. Aku tidak perna berharap ini akan terjadi. Aku tidak berharap semua yang
tidak seharusnya aku tau sekarang harus aku tau. Aku tidak perna berharap
terjebak dan jatuh dalam lubang ini dan
aku tidak perna berharap berteriak hingga terasa mencekik.
Ada orang
bilang, kalau kita dipertemukan dengan seseorang bukan karna suatu alasan. Meski,
pertemuan itu memakan waktu yang singkat namun, Tuhan mempertemukan dua
pasang mata atau lebih dengan maksud dan
tujuan dan kemudian takdir yang melengkapinya.
Dengan takdir
dan bukan tanpa alasan. Ya, mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang
aneh ini. Jujur, aku kecewa dengan pertemuan ini. Ingin protes. Ingin merengek.
Ingin memohon. “Tuhan, kembalikan lagi waktu, jangan pertemukan aku dengannya
dengan caramu yang kau buat seperti ini, kenapa harus aku kebagian peran dalam
posisi ini, kenapa aku bermain peran denganny seperti ini, biar aku bukan
pemeran utamanya setidaknya bukan seperti ini caranya aku bertemu”.
Entah, berapa
halaman lagi yang harus aku lalui. Entah, bagaimana jalan cerita yang kau buat
untukku. Aku akan iku bermain dalam peran ini. Aku akan berusaha mencoba tidak
berkeluh kesah dengan pemberian peran ini padaku. Tuhan, dirimu adalah sutra
dara dalam cerita panjang ini pasti tentunya kau lah yang paling tau di mana
harus menempatkan diriku. Namun, dalam perjalanan cerita ini nanti hingga
sampai pada endingnya aku berharap dapat menyapa penonton dan kau menempatkan aku dengan posisi yang nyaman
untuku tersenyum iklas melihat sorak soraya serta tepukan tangan seakan
menggetarkan dunia. Biar hingga di penghujung cerita ini bukan aku yang
terlahir menjadi pemeran utama tapi, aku bahagia dapat bermain peran ini ikut
melengkapai jalannya cerita.
Begitukah yang harus
aku lakukan dalam cerita pemeran utama. Dalam cerita hidupnya. Dalam setiap
hari yang dia lalui. Begituhkan aku harus berperan. Pasra, asal ikut serta, asal
ada nama ku dan bagian dalam pemain, asalkan saja aku tidak diam seperti orang
bodoh, haruskah aku begitu, bersifat pasra dengan peran yang aku mainkan.
Sedih sekali
hidupku jika begitu. Hanya pasra. Bila hanya begitu, maka aku akan seperti
benalu terus menumpang pada satu pohon menumpang pada cerita pemeran utama. Tidak
ada cerita untukku. Aku hanya sebagai pelengkap agar cerita pemeran utama
menjadi sempurna.
Mengapa aku
tidak buat cerita ku sendiri. Dan tentunya aku si pemeran utama. Bukan hanya
benalu. Bukan hanya pasra. Who i am ?. itu jadi pertanyaanku.
Siapa kamu yang
masuk dalam ceritaku. Mengacaukan jalannya cerita ini. Hingga cerita ku
terkesan menstrim-menegangkan-bahkan horor. Kamu ?! siapa kamu ?! aku bertriak
dengan dirimu diatas panggung sandiwara dalam ceitaku sendiri. ”Jangan jadi
benalu dalam ceritaku, buat cerita sendiri, jangan mengacaukan ceriku yang
sudah sekian lama aku tata kata demi kata. Yang begitu susahnya aku menunggu
hingga perna sempat jadi benalu juga”.
Kamu masuk dalam
ceritaku hanya menghancurkan jalan cerita ini. Kenapa kamu yang Tuhan pilihkan
menjadi pemeran pembantu dalam ceritaku. ”Tolong pergi, jangan ganggu, biarkan
ini berjalan dengan baik”. Aku berteriak sekali lagi dengan dirimu. “bila dulu
jalan cerita yang kau buat seperti itu maka kembali lah dengan cerita itu”. Tuhan
telah memberikan kita peran masing-masing, dan tidak seharusnya kamu masuk
dalam ceritaku berniat menghancurkannya dengan cara itu.
Bagiku Ceritamu hancur.
Tapi, sayangnya cerita itu selalu kau tutup tutupkan kesalahannya dengan
menempel seperi benalu pada cerita orang lain. Jangan, aku. Jangan kau ajak
aku. Jawabannya tentu tidak.Iya, tidak untuk itu. Bahakan, hingga umurku 20
tahun sekalipun aku tidak ingin kau masuk dalam ceritaku.
Kita sudah
dewasa. Begitu pula seharusnya pikiran kita. Pandangan kita pada cerita ini. Buatlah
cerita ini menjadi cerita yang baik. Tidakkah, kamu nantiya ingin menceritakan
kisahmu dengan keturunanmu nanti.
Aku bersyukur.
Tuhan masih menjagaku. Masih memperkuat imanku. Hingga sampai waktunya nanti
dimana aku memang telah pantas mendapatknnya. Aku akan menjaga cerita ini
dengan sangat baik. Agar tidak ada jalan cerita yang melenceng dari apa yang
aku harapkan. Karna untuk menjaga kedewasaan ini pula sangan sulit.