Jumat, 12 Agustus 2016

Sabtu, 13 Agustus 2016
Bye : Agustia ningsy (17th)

Cerita Pemeran Utama
Sebelum ini ku alami. Aku tidak perna berharap ini akan terjadi. Aku tidak berharap semua yang tidak seharusnya aku tau sekarang harus aku tau. Aku tidak perna berharap terjebak dan jatuh dalam  lubang ini dan aku tidak perna berharap berteriak hingga terasa mencekik.
Ada orang bilang, kalau kita dipertemukan dengan seseorang bukan karna suatu alasan. Meski, pertemuan itu memakan waktu yang singkat namun, Tuhan mempertemukan dua pasang  mata atau lebih dengan maksud dan tujuan dan kemudian takdir yang melengkapinya.
Dengan takdir dan bukan tanpa alasan. Ya, mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang aneh ini. Jujur, aku kecewa dengan pertemuan ini. Ingin protes. Ingin merengek. Ingin memohon. “Tuhan, kembalikan lagi waktu, jangan pertemukan aku dengannya dengan caramu yang kau buat seperti ini, kenapa harus aku kebagian peran dalam posisi ini, kenapa aku bermain peran denganny seperti ini, biar aku bukan pemeran utamanya setidaknya bukan seperti ini caranya aku bertemu”.
Entah, berapa halaman lagi yang harus aku lalui. Entah, bagaimana jalan cerita yang kau buat untukku. Aku akan iku bermain dalam peran ini. Aku akan berusaha mencoba tidak berkeluh kesah dengan pemberian peran ini padaku. Tuhan, dirimu adalah sutra dara dalam cerita panjang ini pasti tentunya kau lah yang paling tau di mana harus menempatkan diriku. Namun, dalam perjalanan cerita ini nanti hingga sampai pada endingnya aku berharap dapat menyapa penonton dan  kau menempatkan aku dengan posisi yang nyaman untuku tersenyum iklas melihat sorak soraya serta tepukan tangan seakan menggetarkan dunia. Biar hingga di penghujung cerita ini bukan aku yang terlahir menjadi pemeran utama tapi, aku bahagia dapat bermain peran ini ikut melengkapai jalannya cerita.
Begitukah yang harus aku lakukan dalam cerita pemeran utama. Dalam cerita hidupnya. Dalam setiap hari yang dia lalui. Begituhkan aku harus berperan. Pasra, asal ikut serta, asal ada nama ku dan bagian dalam pemain, asalkan saja aku tidak diam seperti orang bodoh, haruskah aku begitu, bersifat pasra dengan peran yang aku mainkan.
Sedih sekali hidupku jika begitu. Hanya pasra. Bila hanya begitu, maka aku akan seperti benalu terus menumpang pada satu pohon menumpang pada cerita pemeran utama. Tidak ada cerita untukku. Aku hanya sebagai pelengkap agar cerita pemeran utama menjadi sempurna.
Mengapa aku tidak buat cerita ku sendiri. Dan tentunya aku si pemeran utama. Bukan hanya benalu. Bukan hanya pasra. Who i am ?. itu jadi pertanyaanku.
Siapa kamu yang masuk dalam ceritaku. Mengacaukan jalannya cerita ini. Hingga cerita ku terkesan menstrim-menegangkan-bahkan horor. Kamu ?! siapa kamu ?! aku bertriak dengan dirimu diatas panggung sandiwara dalam ceitaku sendiri. ”Jangan jadi benalu dalam ceritaku, buat cerita sendiri, jangan mengacaukan ceriku yang sudah sekian lama aku tata kata demi kata. Yang begitu susahnya aku menunggu hingga perna sempat jadi benalu juga”.
Kamu masuk dalam ceritaku hanya menghancurkan jalan cerita ini. Kenapa kamu yang Tuhan pilihkan menjadi pemeran pembantu dalam ceritaku. ”Tolong pergi, jangan ganggu, biarkan ini berjalan dengan baik”. Aku berteriak sekali lagi dengan dirimu. “bila dulu jalan cerita yang kau buat seperti itu maka kembali lah dengan cerita itu”. Tuhan telah memberikan kita peran masing-masing, dan tidak seharusnya kamu masuk dalam ceritaku berniat menghancurkannya dengan cara itu.
Bagiku Ceritamu hancur. Tapi, sayangnya cerita itu selalu kau tutup tutupkan kesalahannya dengan menempel seperi benalu pada cerita orang lain. Jangan, aku. Jangan kau ajak aku. Jawabannya tentu tidak.Iya, tidak untuk itu. Bahakan, hingga umurku 20 tahun sekalipun aku tidak ingin kau masuk dalam ceritaku.
Kita sudah dewasa. Begitu pula seharusnya pikiran kita. Pandangan kita pada cerita ini. Buatlah cerita ini menjadi cerita yang baik. Tidakkah, kamu nantiya ingin menceritakan kisahmu dengan keturunanmu nanti.

Aku bersyukur. Tuhan masih menjagaku. Masih memperkuat imanku. Hingga sampai waktunya nanti dimana aku memang telah pantas mendapatknnya. Aku akan menjaga cerita ini dengan sangat baik. Agar tidak ada jalan cerita yang melenceng dari apa yang aku harapkan. Karna untuk menjaga kedewasaan ini pula sangan sulit.